Awal Pertemuan
Kami berdua pertama kali bertemu saat masih duduk di bangku SMA di sekolah yang sama. Perkenalan kami terjadi di ruang komputer ketika sedang menjalani ujian sekolah. Pada saat itu, kami hanya sebatas teman biasa yang saling menyapa jika bertemu di lingkungan sekolah. Tanpa disadari, R ternyata diam-diam memperhatikan L dari kejauhan.
Seiring berjalannya waktu, kami mulai memiliki sedikit interaksi hingga akhirnya bertukar nomor WhatsApp. Hal itu bermula ketika R ingin membeli masker COVID dari L melalui DM Instagram. Dari situlah kami pertama kali bertemu di luar sekolah untuk melakukan COD masker. Setelah pertemuan tersebut, komunikasi kami mulai terjalin lebih sering. Kami saling bertanya, berbagi cerita, dan mengobrol tentang berbagai hal sederhana yang terkadang terasa random.
Kami bahkan sempat merencanakan perjalanan bersama ke Bromo. Namun, karena saat itu masih dalam kondisi pandemi COVID, rencana tersebut harus dibatalkan secara mendadak oleh L. Meski begitu, R tetap berusaha menjaga komunikasi dengan rutin menghubungi L setiap hari. Bahkan ketika pesan-pesan R tidak dibalas hingga berhari-hari, ia tetap berusaha sabar, meskipun terkadang memilih menghapus pesannya sendiri.
R juga sering mengajak L untuk keluar dan menghabiskan waktu bersama, namun berkali-kali pula L menolaknya. Meski begitu, R tidak pernah menyerah. Hingga pada suatu waktu, setelah beberapa kali mencoba, L akhirnya menerima ajakan tersebut. Kami pun pergi bersama, duduk santai di sebuah angkringan, berbincang ringan, saling bertukar pendapat, lalu melanjutkan perjalanan dengan berkeliling Kota Surabaya. Momen tersebut dipenuhi dengan canda dan tawa yang membuat kami semakin mengenal satu sama lain.
Namun, beberapa minggu setelah pertemuan itu, komunikasi kami mulai berkurang. Percakapan berubah menjadi hanya beberapa kalimat dalam sehari, hingga akhirnya kami benar-benar kehilangan kontak. Waktu pun berlalu, dan kami masing-masing menjalani kehidupan dengan pasangan yang berbeda. Selama lebih dari satu tahun, kami tidak pernah bertemu lagi. Meski demikian, R sesekali masih menghubungi L melalui WhatsApp, sekadar menanyakan kabar perkuliahan, atau hanya membalas status yang diunggah.
Pada awal tahun 2023, tanpa direncanakan, kami kembali berkomunikasi. Hal itu bermula dari L yang iseng membalas status Whatsap R. Dari percakapan sederhana tersebut, komunikasi kami kembali terjalin. Tanpa kami sadari, ternyata pada waktu yang hampir bersamaan, kami berdua sedang berada di kondisi yang sama, yaitu sama-sama baru saja mengakhiri hubungan dengan pasangan masing-masing.
Sejak saat itu, komunikasi kami menjadi semakin intens. Berbeda dari sebelumnya, kali ini percakapan terasa lebih hangat dan menyenangkan. L mulai melihat sosok R sebagai pribadi yang baik, sabar, dan tidak mudah menyerah, meskipun dulu sering diabaikan. Kami pun mulai sering menghabiskan waktu bersama, terutama karena memiliki hobi yang sama, yaitu mengeksplorasi alam. Kami pergi mendaki gunung, mengunjungi air terjun, hingga menjelajahi berbagai tempat alam yang sedang viral, sambil terus mengenal satu sama lain lebih dalam.
Seiring berjalannya waktu, kedekatan kami semakin erat. Hingga pada akhir tahun 2023, perasaan yang tumbuh di antara kami semakin kuat dan akhirnya kami memutuskan untuk menjalin hubungan asmara. Tahun 2024 menjadi tahun yang penuh kebahagiaan bagi kami. Setiap kali terjadi perbedaan atau pertengkaran, kami selalu berusaha untuk saling mencari, berkomunikasi, dan saling memaafkan. Kami juga rutin menghabiskan waktu bersama setiap minggunya, menciptakan banyak kenangan indah. Hari demi hari pun terasa begitu berarti, dipenuhi dengan kebersamaan, canda, dan kasih sayang yang terus tumbuh di antara kami.