Phase 1
Kau datang seperti senja yang malu-malu, membawa hangat di antara sisa-sisa dingin yang belum sempat reda. Aku tak pernah berniat mencari, tapi semesta mengarahkan langkahku ke hadapanmu-seorang yang sama lelahnya, sama remuknya, namun tetap ingin percaya bahwa cinta bisa kembali hidup.
Di bawah pohon tabebuya, kali pertama kami menautkan mata. Kami bertemu di persimpangan luka, saling menatap dengan mata yang menyimpan kehati-hatian. Aku takut jatuh, kau takut kehilangan. Dan, entah bagaimana, keberadaanmu justru membuat segalanya terasa lebih ringan. "Kita jinjing bersama" katamu, tapi aku tidak pernah menyangka akan seringan ini. Kami berbagi sunyi, berbagi lelah, dan perlahan berbagi harapan.